100KPJ

Mengharukan, Cerita Sopir Bus Terpaksa Mudik dengan Jalan Kaki ke Solo

Share :

100kpj – Banyak kisah mengharukan saat pandemi corona ini, di mana para pekerja harus kena PHK dan tak memiliki dana untuk menyambung hidup. Bahkan, untuk sekedar berkumpul dengan keluarga di kampung halaman pun sulit sekali.

Seperti kisah sopir bus pariwisata yang terpaksa nekat mudik dengan berjalan kaki dari Cibubur dengan tujuan Solo. Ia memutuskan mudik setelah perusahaan tempat bekerjanya memberikan PHK pada karyawannya.

Baca juga:
Seksinya Tante Ernie Bersanding dengan Mobil Mewah dan Klasik

Tontowi Ahmad Gantung Raket, Intip Yuk Koleksi Moge dan Mobil Mewahnya

Anak Motor Banget, Ajudan Prabowo yang Bantu Bocah Korban Bully

Dia adalah Maulana Arif Budi Satrio. Sebelum terkena PHK, pria yang akrab disapa Rio tersebut merupakan pengemudi bus pariwisata yang bermarkas di Cibubur sejak 2017 silam. Sialnya, kini sektor pariwisata menjadi korban dari pandemi virus corona ini.

Tak pelak, dampak tersebut ikut menjalar ke bisnis persewaan bus pariwisata sejak Maret silam. Dia pun sadar jika perusahaan tempatnya bekerja mengeluarkan jurus pamungkas dengan melakukan PHK kepada para pegawai dan kru bus pada awal Mei lalu. Mau tak mau, ia pun memutar otak untuk bisa bertahan hidup di perantuan tanpa penghasilan.

"Saat di-PHK, belum ada gaji, belum ada THR dan lainnya," kata dia ketika ditemui di tempat karantina di Graha Wisata Niaga Solo, Senin, 18 Mei 2020. Sejurus kemudian Satrio memiliki ide untuk mudik ke Solo setelah menyerahkan kontrakan kepada temannya. Ia merasa temannya lebih membutuhkan kontrakan untuk tempat tinggal. Padahal kontrakan itu masa sewanya baru akan berakhir Juni nanti.

"Sementara kontrakan saya berikan ke tetangga depan rumah yang kontrakannya sudah habis dan diusir. Karena kasihan tetangga itu memiliki anak kecil, saya meminta tetangga itu untuk menempati kontrakan saya," ucapnya.

Kemudian ia pun mencoba alternatif mudik dengan memanfaatkan moda angkutan transportasi umum bus. Ia rela merogoh kocek sebesar Rp500 ribu untuk membeli tiket. Tak dinyana, ternyata moda transportasi itu tak sesuai harapan.

"Yang dipesan angkutan bus, yang datang mobil ELF. Saya nggak mau, akhirnya nggak jadi berangkat," akunya.

Setelah itu, Satrio pun kembali memutar otak untuk pulang kampung. Ia mencoba menggunakan kendaraan pribadi, tapi sesampainya di tol Cikarang malah diminta memutar ke kota awal pemberangkatan. "Saya putus asa dan malah mau berantem di tol Cikarang karena disuruh balik," ujarnya.

Setelah berbagai usaha untuk mudik gagal di tengah jalan, ia pun memutuskan untuk jalan kaki. Ia berangkat dari Cibubur pada 11 Mei 2020 usai salat Subuh. Bekal yang dibawa hanya dua tas yang terdiri dari tas gendong dan tas srempang serta sepatu yang dibungkus kresek.

Share :
Berita Terkait