100KPJ

Heboh Kijang Innova Nabrak Airbag Tak Mengembang, Ini 5 Fakta Airbag

Share :

100kpj – Satu unit mobil Toyota Kijang Innova mengalami kecelakaan lalu lintas di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan pada sore hari ini. Kendaraan menabrak pembatas jalan, hingga tersangkut di beton.

Kijang Innova berwarna hitam dengan plat nomor B 2990 SID menabrak separator atau pembatas jalan, kerusakannya cukup parah, tiang besi yang menjaadi pembatas jalan menembus dari bagian depan mobil, ruang mesin, sampai ke dalam interior. Besi itu menusuk bumper bagian kiri tepat di bawah grill atas hingga ke layar head unit.

Hal yangmembuat penasaran, airbag pada Kijang Innova tersebut tidak mengembang. Menurut Diler Technical Support PT Toyota Astra Motor, Didi Ahadi mengatakan, untuk mengetahui penyebab airbag pada Kijang Innova tersebut dibutuhkan pemeriksaan. Karena ada faktor lain yang membuat airbag tidak mengembang.

“Harus investigasi dulu, kecepatannya dan lain-lain. Memang kalau dilihat sepertinya (tidak mengenai sensor airbag di bagian depan), tidak menyebabkan airbag mengembang,” ujarnya kepada 100KPJ, Senin 4 Januari 2021.

Airbag merupakan salah satu fitur keselamatan utama pada mobil. Airbag adalah kantung udara yang akan mengembang otomatis ketika mobil terkena benturan, sehingga bisa meminimalkan cedera berat untuk pengemudi dan penumpang.

Dilansir dari laman Toyota Astra Motor, ada 5 fakta yang bisa ditemukan pada fitur airbag mobil. Seperti fakta pertama, titik sensor yang umumnya terletak dekat lampu utama mobil kanan dan kiri. Itu jika jumlah airbag mobil hanya dua yakni bagian pengemudi dan penumpang saja.

Tapi kalau airbag-nya ada 4 atau lebih, seperti di samping mobil, titik sensor umumnya juga diletakkan pada pilar mobil. Sehingga andai terjadi tabrakan samping, airbag tetap bisa mengembang.

Bagaimana sensor ini bekerja? Syaratnya jarak pembacaan sensor minimal 15 derajat garis lurus ke depan. Bila lebih besar dari 15 derajat, maka ada kemungkinan airbag tidak mengembang. Sebagai contoh bila mobil menabrak tiang listrik pada bagian tengah (grill), maka bisa saja airbag tidak mengembang.

Fakta kedua, ternyata ada unsur kimia dalam proses mengembangnya airbag. Berawal dari ignitier yang membakar senyawa Natrium Azida (NaN3) hingga kemudian bereaksi dengan Kalium Nitrat (KNO3). Hingga akhirnya menjadi nitrogen panas yang berfungsi mengembangkan kantung udara.

Fakta ketiga, kecepatan mobil juga berpengaruh terhadap proses mengembangnya airbag, karena perlu gaya tekanan yang besar, maka sensor airbag pada mobil umumnya bekerja bila kecepatan minimal 50 km/jam. Sehingga bila mobil menabrak dengan kecepatan rendah atau di bawah 50 km/jam, ada kemungkinan airbag tidak mengembang.

Fakta keempat, singkatan SRS yang sering ditemukan di dasbor mobil atau pada setir mobil. Bagi yang penasaran, singkatan SRS adalah Supplementary Restraint System yang artinya fitur ini hanya sistem pendukung. 

Jadi bisa dikatakan airbag ini bukan fitur utama untuk menyelamatkan penumpang saat terjadi kecelakaan. Masih ada sabuk pengaman yang lebih utama dalam fitur keselamatan yang sudah menjadi standar sejak lama.

Fakta kelima, ECU pada airbag baru akan memerintahkan proses kerja jika ada gaya dalam jumlah besar pada titik sensor. Bila ECU tidak menerima gaya dalam jumlah besar pada titik sensor yang tersebar di bodi mobil, maka airbag bisa tidak mengembang.

Baca juga: Ternyata Servis Mobil di Bengkel Resmi Bisa Dicicil, Begini Caranya

Share :
Berita Terkait